Wikipedia

Search results

Wednesday, January 27, 2016

ARTIKEL DISIPLIN

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Makalah PpknTema
DISIPLIN

Dosen Pengampuh : M. Affandi, M.pd
Disusun Oleh:

1. Ganda Rusman Maulana             1411100197
2. Lia Damayanti                               1411100208
3. Muri Nopita Sari                           1411100225





JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN RADEN INTAN LAMPUNG
2016
A.      Latar Belakang
Kita telah banyak mengetahui tentang pembelajarn PPKN (Pendidikan keluarga negaraan) yang salah satunya mencakup moral dan tanggung jawab. Bangsa kita telah mengalami kemerosatan tentang itu, sampai-sampai tahun lalu diberlakukannya kurikulum tiga belas (kurtilas) untuk membangkitkan dan menumbuhkan karakter anak-anak bangsa, Cuma sayang hal itu tidak berjalan dengan lancar . Salah satu hal yang membuatku tertarik yang aku bahas adalah yang da dilingkungan kita sehari-hari. Kalian pasti tau akan Displin, banyak orang telah melupakan hal ini , hal ini adalah hal peting bagi penunjang kehidupan oarang yang menjalani hidup disiplin.
Disiplin menjadikan tolak ukur Bagi setiap manusia yang memiliki moral dantanggung jawab yang baik atau tidak. Sudah pasti orang memiliki sikap disiplin di dalam kehidupanya, hidupnya akan berjalan tampa ada hambatan , walau pun ada ia akan senantiasa dapat mengatasinya.
B.       Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui Pengertian Disiplin
2.      Mengetahui Disiplin Adalah Kunci Untuk Semua Keberhasilan
3.      Mengetahui Macam – Macam Kedisiplinan
4.      Mengetahui Disiplin Diawali Dengan Pemaksaan
5.      Mengetahui MANFAAT DISIPLIN











A.      Pengertian Disiplin
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhad nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang dirasakan menjadi tanggung jawab.
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Tanggung jawab adalah cirri manusia yang beradab. Manusia bertanggungjawab terhadap tindakan mereka. Kita mempunyai tanggung jawab kepada diri kita, berusaha semampunya adalah kunci agar kita dapat mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di dunia ini[1].
Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola prilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib[2].
Disiplin adalah sikap yang selalu tepat janji, sehingga orang lain mempercayainya, karena modal utama dalam berwirausaha adalah memperoleh kepercayaan dari orang lain
Disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuhsifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha maupun belajar, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh darisifat putus asa. Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplindan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baikdalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa maupun kehidupan bernegara.
Seorang yang disiplin ketika melakukan suatu pelanggaran walaupun kecil akan merasa bersalah terutama karena ia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri. Perilaku khianat akan menjerumuskannya pada runtuhnya harga diri karena ia tak lagi dipercaya. Sedangkan kepercayaan merupakan modal utama bagi seseorang yang memiliki akal sehat dan martabat yang benar untuk dapat hidup dengan tenang (sakinah), dan terhormat.
B.       Disiplin Adalah Kunci Untuk Semua Keberhasilan
Kalau kita ingin berhasil dalam hidup ini, Terapkan disiplin dalam setiap kegiatan kita! Disiplin merupakan kunci keberhasilan sebab dengan tingkat kedisiplinan tinggi, maka tingkat konsentrasi kita dalam melaksanakan kegiatan meningkat. Untuk kegiatan belajar, kedisiplinan yang kita maksudkan adalah disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin kegiatan, disiplin dalam segala hal terkait dengan kegiatan belajar. Dengan menerapkan disiplin ketat, maka kita dapat membuktikan pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa[3].
Sebenarnya, disiplin tidak hanya dalam kegiatan belajar saja sebab setiap kegiatan membutuhkan tingkat keseriusan tinggi agar dapat berhasil. Jika kita disiplin berarti kita secara utuh melakukan kegiatan tersebut. Tentunya, dengan kondisi seperti itulah, maka keberhasilan bukan sesuatu yang jauh dari kita.
Seperti Pengaruh Disiplin Terhadap keberhasilan Belajar, Proses pembelajaran dilaksanakan untuk dapat melakukan perubahan pada siswa. Perubahan ini merupakan perubahan mendasar sebab terkait dengan sikap dan kompetensi siswa Dengan berbagai cara guru membimbing siswa agar dapat mencapai tingkat kemampuan tertinggi.
Namun, semua itu sangat tergantung pada tingkat kedisiplinan siswa dalam belajar. Dan, menurut penelitian memang ada pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa. Anak-anak yang disiplin dalam belajar mempunyai tingkat kompetensi lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak disiplinMemang sangat jelas. Sebagaimana kita ketahui bahwa disiplin artinya ketaatan kita terhadap satu kesepakatan yang telah kita buat untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal ini prestasi belajar siswa.  Dalam kehidupan kita berlaku satu konsep dasar bahwa siapa yang lebih patuh terhadap keputusan bersama, maka dia akan mendapatkan yang diinginkan.
Dalam dunia pendidikan, kedisiplinan merupakan harga mati yang harus dibayar oleh siswa. Kita tidak dapat menerima penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh siswa. Oleh karena itulah, maka di dalam proses pendidikan dan pembelajaran kita mengenal adanya reward dan punishment. Kedua hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh siswa.
Hal ini harus kita lakukan sebab pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa sangatlah besar. Ini bukanlah ancaman bagi siswa tetapi sekedar pengkondisian agar tumbuh dan berkembang sikap disiplin pada pola kehidupan siswa.
C.      Macam – Macam Kedisiplinan
1.       Disiplin dalam Menggunakan Waktu
Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik. Karena waktu amat berharga dan salah satu kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan waktu dengan baik Disiplin dalam penggunaan waktu perlu diperhatikan dengan seksama. Waktu yang sudah berlalu tak mungkin dapat kembali lagi. Demikian pentingnya waktu sehingga berbagai bangsa menyatakan penghargan terhadap waktu. Orang Inggris mengatakan Time is money (waktu adalah uang), peribahasa Arab mengatakan” (waktu adalah pedang) atau waktu adalah peluang emas, dan kita orang Indonesia mengatakan:‘’sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna’’.
Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin dalam memanfaatkan waktunya. Disiplin tidak akan datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui latihan yang ketat dalam kehidupan pribadinya[4].
2.      Disiplin dalam Beribadah
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk atau merendahkan diri. Pengertian yang lebih luas dalam ajaran Islam, ibadah berarti tunduk dan merendahkan diri hanya kepada Allah yang disertaidengan perasaan cinta kepada-Nya. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa disiplin dalam dalam beribah itu mengandung dua hal: (1) berpegang teguh apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah atau larangan, maupun ajaran yang bersifat menghalalkan, menganjurkan, sunnah, makruh dan subhat; (2) sikap berpegang teguh yang berdasarkan cinta kepada Allah, bukan karena rasa takut atau terpaksa. Maksud cinta kepada Allah adalah senantiasa taat kepada-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 31:
‘’Katakanlah: ‘’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31).
3.       Disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Negara adalah alat untuk memperjuangkan keinginan bersama berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh para anggota atau warganegara tersebut. Tanpa adanya masyarakat yang menjadi warganya, negara tidak akan terwujud. Oleh karena itu masyarakat merupakan prasyarat untuk berdirinya suatu Negara. Tujuan dibentuknya suatu negara adalahseluruh keinginan dan cita-cita yang diidamkan oleh warga masyarakat dapat diwujudkan dan dapat dilaksanakan. Rasulullah bersabda yang artinya:‘’Seorang muslim wajib mendengar dan taat, baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat. Apabila ia diperintah mengerjakan maksiat, maka tidak wajib untuk mendengar dan taat’’. (H.R. Bukhori Muslim)
Kedisiplinan merupakan hal yang amat menentukan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sampai terjadi erosi disiplin maka pencapaian tujuan pendidikan akan terhambat, diantara faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah :
a)      Faktor tuntutan materi lebih banyak sehingga bagaimana pun jalannya, banyak ditempuh untuk menutupi tuntutan hidup \
b)      Munculnya selera beberapa manusia yang ingin terlepas dari ikatan dan aturan serta ingin sebebas-bebasnya
c)      Pola dan sistem pendidikan yang sering berubah
d)     Motivasi belajar para peserta didik dan para pendidik menurun
e)      Longgarnya peraturan yang ada
Pada dasarnya disiplin muncul dari kebiasaan hidup dan kehidupan belajar dan mengajar yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaannya. Disiplin merupakan proses pendidikan dan pelatihan yang memadai, untuk itu guru memerlukan pemahaman tentang landasan Ilmu kependidikan akan keguruan sebab saat ini banyak terjadi erosi sopan santun dan erosi disiplin.[5]
Macam-macam bentuk disiplin selain seperti yang disebutkan diatas, disiplin juga terbagi menjadi:
1)      Disiplin Diri Pribadi
Apabila dianalisi maka disiplin menganung beberapa unsur yaitu adanya sesuatu yang harus ditaati atau ditinggalkan dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal tersebut. Disiplin diri merupakan kunci bagi kedisiplinan pada lingkungan yang lebih luas lagi. Contoh disiplin diri pribadi yaitu tidak pernah meninggalkan Ibadan lepada Tuhan Yang Maha Kuasa
2)        Disiplin Sosial
Pada hakekatnya disiplin sosial adalah Disiplin dari dalam kaitannya dengan masyarakat atau dalam hubunganya dengan. Contoh prilaku disiplin social hádala melaksanakan siskaling kerja bakti. Senantiasa menjaga nama baik masyarakat dan sebagaiannya.
3)      Disiplin Nasional
Berdasarkan hasil perumusan lembaga pertahanan nasional, yang diuraikan dalam disiplin nasional untuk mendukung pembangunan nasional. Disiplin nasional diartikan sebagai status mental bangsa yang tercemin dalam perbuatan berupa keputusan dan ketaatan. Baik secara sadar maupun melalui pembinaan terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku.[6]

D.      Disiplin Diawali Dengan Pemaksaan
Ingin disiplin kita Lakukan pemaksaan, pengkondisian secara ketat Untuk langkah awal pendisiplinan memang harus dipaksakan sehingga menjadi kebiasaan. Jika sesuatu sudah menjadi suatu kebiasaan sedikit lagi akan menjadi sebuah kebutuhan.
Dalam konteks kegiatan pembelajaran agar prestasi dapat bertahan atau meningkat, maka kita memang harus menerapkan disiplin yang ketat. Hal ini mengikuti pengalaman bahwa pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa sangat menentukan keberhasilan beajar siswa. Sementara kita berharap para siswa berhasil dalam mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran.
Dalam proses pendidikan, yaitu mengarahkan perubahan pola sikap dan cara hidup serta kompetensi diri harus dilakukan dengan tingkat yang tinggi, dan memang harus dipaksakan agar menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi kebutuhan untuk mencapai tujuan hidupnya. Tanpa pemaksaan, maka kedisiplinan tidak akan tercapai dan pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa tidak dapat kita jadikan sebagai jalan membimbing belajar siswa di sekolah
yang telah menjadi kebutuhan hidup akan membawa kita pada kondisi terbaik dan mengarah pada tujuan  yang diharapkan. Dalam dunia pendidikan-pun, ini terutama sekali, kedisiplinan merupakan faktor utama untuk mencapai keberhasilan belajarnya.
Kita mengetahui bahwa pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa memang sangat tinggi sehingga dibutuhkan kesadaran setiap siswa untuk mengikuti kedisiplinan yang diterapkan di sekolah. Semua itu harus diawali dengan pemaksaan terhadap pola hidup siswa dan semua civitas sekolah.
E.       Manfaat Disiplin
1.      Menumbuhkan kepekaan
Anak tumbuh menjadi pribadi yang peka/berperasaan halus dan percaya pada orang lain. Sikap ini memudahkan dirinya mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, termasuk orang tuanya. Jadinya, anak akan mudah menyelami perasaan orang lain juga.
2.      Menumbuhkan kepedulian
Anak jadi peduli pada kebutuhan dan kepentingan orang lain.Disiplin membuat anak memiliki integritas, selain dapat memikul tanggung jawab, mampu memecahkan masalah dengan baik ,cepat dan mudah.
3.      Mengajarkan keteraturan
Anak jadi mempunyai pola hidup yang teratur dan mampu mengelola waktunya dengan baik
4.      Menumbuhkan ketenangan
Menurut penelitian menunjukkan bayi yang tenang/jarang menangis ternyata lebih mampu memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan baik. Di tahap selanjutnya bahkan ia bisa cepat berinteraksi dengan orang lain.
5.      Menumbuhkan percaya diri
Sikap ini tumbuh berkembang pada saat anak diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang mampu ia kerjakan dengan sendiri.
6.      Menumbuhkan kemandirian
Dengan kemandirian anak dapat diandalkan untuk bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Anak juga dapat mengeksplorasi lingkungan dengan baik.Disiplin merupakan bimbingan yang tepat pada anak untuk sanggup menentukan pilihan yang bijak.
7.      Menumbuhkan keakraban
Anak menjadi cepat akrab dan ramah terhadap orang lain karena kemampuannya beradaptasi lebih terasah.
8.      Membantu perkembangan otak
Pada usia 3 tahun pertama, pertumbuhan otak anak sangat pesat, disini ia menjadi peniru perilaku yang piawai. ia mampu mencontoh dengan sempurna tingkah laku orang tua yang disiplin dengan sendirinya akan membentuk kebiasaan dan sikap yang positif.
9.      Membantu anak yang “sulit”
Kadang-kadang kita lupa pada anak yang berkebutuhan khusus yang memerlukan penangan khusus, melalui disiplin yang menekankan keteraturan anak berkebutuhan khusus bisa hidup lebih baik.
10.  Menumbuhkan kepatuhan
Hasilnya anak akan menuruti aturan yang ditetapkan orangtua atas kemauan sendiri.[7]

A.      Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa disiplin adalah suatu sikap ketaatan secara sadar terhadap aturan, norma-norma, dan kaidah-kaidah yang berlaku agar terhindar dari hukuman dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Selanjutnya, istilah disiplin dijelaskan dalam Good’s Dictonary of Education sebagai berikut:
1.      Proses hasil pengarahan atau pengendalian keinginan demi suatu cita-cita atuk mencapai tindakan yang lebih efektif.
2.      Pencarian siatu cara bertindak yang terpilih dengan gigih, aktif, dan tindakan sendiri, sekalipun menghadapi rintangan.
3.      Pengendalian perilaku dengan langsung dan otoriter melalui hukuman dan hadih.
4.      Pengekangan dorongan, sering melalui cara yang tak enak, menyakitkan.
Bedasarkan pernyataan tersebut, maka aspek terpenting dari sikap disiplin adalah sikap kekuatan serta kepatuhan terhadap aturan-aturan. Selain iti, juga menjalankan tatatertib dan ketundukan dari secara sadar demi mencapai tujuan yang diharapkan.
Islam menegjarkan kepada umatnya agar hidup disiplin dengan bekerja keras, bersungguh-sungguh, jujur, hidup teratur, dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Disiplin merupakan pangkal dari keberhasilan. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Supaya hidup teretur, hendaklah kita pandai-pandai menggunakan waktu dengan membuat perencanaan  yang baik. Sehingga, kita dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Pada akhirnya, kita mencapai hasil yang memuaskan. Sebaliknya, jika kita tidak menggunkan waktu secara teratur dan bahkan mengabaikannnya, maka Allah Swt. Telah menegaskan dalam firman-Nya sebagai Berikut
QS. Al Ashr [103]: ayat 1 sampai 3
“ demi masa. Sesungguhnya, manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetaoi kesabaran”

Dafar Pustaka

Wiyono, slamet,2009. Manjemen Potensi Diri. Bandung Grasindo.
guruhebat-guruhebat.bloqspot.com diambil di wayhalim tanggal 02 januari 2016
Poerwandarminta, 1976,  Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta: Balai Pustaka.
Euis Susanti, 2004,  Mengasuh dengan Hati: Tantatangan yang Menyenangkan, Jakarata: Elex Media Komputindo
Wibowo, 2001, etika dan moral dalam pembelajarna, jakarta, universitas terbuka dan dirjen dikti depdiknas.
Sindu Mulianto dkk.2006, panduan lengkap supervisi Diperkaya Perspektif Syarian Jakarta: alex Media Komputindo.
Rahardjo, M Dawam. 1999. Masyarakat madani: Agama, Kelas Menenngah, dan Perubahan Sosial. Cetak ke-5. Jakarta: LP3ES.




[1]  Wibowo, etika dan moral dalam pembelajarna, jakarta, universitas terbuka dan dirjen dikti depdiknas, 2001 hlm, 287
[2] Sindu Mulianto dkk., panduan lengkap supervisi Diperkaya Perspektif Syarian (Jakarta: alex Media Komputindo, 2006), Hlm 171.
[3] Euis Susanti, Mengasuh dengan Hati: Tantatangan yang Menyenangkan( Jakarata: Elex Media Komputindo, 2004), hlm 116.
[4] Poerwandarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,1976), Hlm. 55.
[5] Rahardjo, M Dawam. Masyarakat madani: Agama, Kelas Menenngah, dan Perubahan Sosial. Cetak ke-5. Jakarta: LP3ES. 1999. Hlm.187.

[6] Guruhebat-guruhebat.bloqspot.com
[7] Wiyono, slamet, Manjemen Potensi Diri. (Bandung Grasindo. 2009). Hlm 87.

Arikel Bakat Anak

ABSTRAK
Bakat merupakan potensi bawaan yang dengan sengaja diberikan oleh Tuhan kepada seseorang untuk dikembangkan agar bakat tersebut menjadi lebih bermanfaat bagi kehidupannya.[1] Kita dapat membantu dalam mengembangkan anak-anak dan memungkinkan mereka memanfaatkan bakat tersebut, dalam merencanakan pengajaran dan bimbingan pekerjaan, serta memberi mereka bekal dengan pengalaman-pengalaman yang berguna, yang mungkin dari adanya akan muncul bakat mereka.[2] Macamnya bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan dimana seseorang individu hidup.[3] Bakat-bakat lahir dan bertumbuh pada masa kanak-kanak dan masa remaja. Berkembangnya bakat dan arah perubahannya dipengaruhi oleh pengalaman anak dalam lingkungan dan oleh pola hidup yang berpengaruh dalam keluarga, masyarakat, dan teman-teman.[4] Peran keluarga dalam pengembangan bakat adalah untuk mengetahui kemungkinan bakat pada anak menyiapkan dan membantu pengembangan bakat anak dirumah dengan pengalaman, perhatian, pola asuh juga bakat yang ada dipertkuat dan bakat-bakat baru ditumbuhkan selain itu, membantu mengatur program-program untuk mengoptimalkan bakatnya.[5] Peran sekolah untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan bakatnya dengan menciptakan situasi yang kondusif, fasilitas yang memungkinkan pengembangan bakat dibarengi bimbingan guru, mengikutsertakan anak didik dalam kompetisi sekolah dan luar sekolah. Peran masyarakat dalam pengembangan bakat anak dengan mendirikan organisasi pemuda, lembaga kursus, dan gedung pelatihan serbaguna dalam rangka menyiapkan masa depan pekerjaan atau keahlian anak di masa yang akan datang.[6] Pendidikan bakat di negeri ini terlupakan, tidak ada yang menangani pendidikan bakat secara serius kecuali orang yang berkepedulian besar terhadap kader terbaik bangsa oleh karena itu, dibutuhkan jalan tengah yang bisa diterima semua pihak. Sekolah hanya bisa maksimal menggali dan mengembangkan bakat anak dalam konteks kegiatan ekstrakulikuler. Keluarga dan masyarakat juga berperan aktif dalam menyediakan lembaga pengembangan bakat.sehingga terjadi sinergitas antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.[7] Walau daalam prosesnya kemungkinan terjadi hambatan sangat besar bisa tetap diatasi.[8] Fokus kepada pengoptimalan bakat anak akan lebih baik karena membandingkan hasil pencapaian hasil orang lain tidak akan membantu. Sebab setiap pribadi memiliki kelebihan atas orang lain, sebaliknya kekurangan kita mungkin menjadi kelebihan orang lain.[9]

BAB I
PENDAHULUAN
Apapun bentuknya, anda harus bersyukur kepada Allah dengan karunia anak yang telah diberikan kepada Allah. Dengan adanya buah hati berarti anda telah menjadi orang yang sempurna dan tali pernikahan akan semakin erat bersambung. Sekali lagi, senantiasa bersyukurlah kepada Allah karena tanpanya anda tidak aakan mendapatkan anak sebagaimana yang telah di berikan-Nya. Selalu berbahagialah dan sesantiasa bersyukurlah kepada sang pencipta atas segala karunia berupa anak terkasih yang telah diberikan kepada anda.[10]
Tetapi ingat, anak anda, baik yang berbakat maupun tidak berbakat, adalah titipan Allah SWT yang harus anda pelihara dengan baik. Bakat anak-anak yang bermacam-macam itu mempunyai peran penting dalam hidup mereka, urgensinya tampak jelas dalam pengajaran mereka dalam macam kegiatan yang mereka gunakan untuk pengisi waktu luang, dan dalam cara mereka membuat rencana untuk kehidupan pekerjaan mereka di kemudian hari. Ia juga membantu anak untuk merasakan kerluan kejiwaan mereka yang pokok. Karena bakat sangat penting artinya bagi kehidupan anak-anak maka seharusnya kita sebagai orang tua dan guru memahami sifat bakat-bakat itu dengan nilai-nilai dan fungsinya supaya bimbingan kita terhadap anak-anak lebih sesuai dan tepat.[11]
Setiap upaya untuk melayani kebutuhan pendidikan anak berbakat perlu memperhatikan kelompok khusus seperti mereka yang dalam kedudukan yang kurang menguntungkan misalnya kondisi soaial ekonomi, tinggal di tempat terpencil, mengalami cacat atau diskriminasi. Pada akhirnya yang harus kita tuju ialah bahwa setiap sekolah dapat memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat dan kemampuan unik dari setiap siswanya, baik yang berkemapuan kurang maupun memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dan berbakat unggul.[12]
Inilah suatu tantangan bagi pendidikan di Indonesia untuk dapat memadu (mengenali dan membina) dan memupuk (mengembangkan secara optimal) bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. Sehingga dapat mewujudkan dirinya sepenuhnya dan memberi sumbangan yang bermakna bagi pengembangan masyarakat dan negaranya.















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Bakat Anak
1.    Definisi Bakat
            Menurut Guilford, bakat terkait dengan tiga dimensi pokok, yaitu persptual, psikomotor, dan intelektual.[13] Menurut Iskandar Junaidi bakat adalah kegiatan yang disenangi oleh anak secara terus menerus disertai minat yang kuat dalam hal positif dan berguna.[14] Bakat merupakan potensi bawaan yang dengan sengaja diberikan oleh Tuhan kepada seseorang untuk dikembangkan agar bakat tersebut agar lebih bermanfaat bagi kehidupannya.[15]
            Dari contoh yang telah dikemukaan itu terbukti bahwa tidak ada keseragaman pendapat di antara para ahli, mengenai soal “apakah bakat itu”. Namun perbedaan-perbedaan pendapat mereka sebenarnya tidak sebesar rumusan-ruusan tersebut. Rumusan-rumusan yang berbeda-beda tersebut sebenarnya merupakan penyorotan masalah bakat itu dari sudut yang berbeda-beda, jadi disamping adanya perbedaan antara pendapat yang satu dan pendapat yang lain, pendapat-pendapat tersebut juga saling melengkapi.[16]
2.        Jenis Bakat
            Bakat merupakan kemamouan atau potensi yang perlu dikembangkan atau dilatih sehingga mencapai kecakapan, pengetahuan, dan ketrampilan khusus. Jenis bakat meliputi :
a.       Kemampuan dibidang khusus. Misalnya, bakat musik, melukis, dan sebagainya.
b.      Bakat khusus yang dibutuhkan sebagai perantara untuk merealisasikan kemampuan khusus. Misalnya, bakat melihat ruang (dimensi) dibutuhkan untuk merealisasikan kemampuan dibidang teknik arsitek.
c.    Bakat alam adalah bakat yang sudah ada sejak kita dilahirkan. Dan perlahan, bakat ini mulai kelihatan ketika usia kita beranjak bersar basanya terjadi karena anak bisa melakukan suatu hal dengan sangat cepat, tentunya dengan proses latihan.
d.   Bakat turunan adalah bakat dari turunam orang tua atau keluarga
e.    Bakat kebiasaan ini timbul karena kebiasaan yang dilakukan terus menerus. Tanpa disadari anak telah mengasah kemampuan yang mungkin terpendam.[17]
3.    Ciri-Ciri Anak Berbakat
            Tanda bakat yang mungkin sudah nampak sejak dini pada anak, namun apabila ciri ini muncul di usia 2 tahun jangan terburu-buru menyimpulkan bakatnya karena akan lebih tepat dilakukan ketika berusia 4 sampai 5 tahun. Tanda yang dimaksud ialah:[18]
a.    Terampil menggunkan kata-kata.
b.    Mahir menggunakan angka.
c.    Mempunyai ingatan yang kuat.
d.   Mempunyai logika dan keterampilan analitis yang kuat.
e.    Mampuberpikir abstrak.
f.     Mahir dengan ruang.
g.    Mempunyai keterampilan mekanis.
h.    Pintar bersosialisasi.
i.      Pandai memahami perasaan manusia.
4.    Perubahan Bakat
Bakat anak-anak berkembang dari permainan khayal pada tahun-tahun pertama dari umurnya, menjadi permainan berkelompok dan kemudian kepada melakukan sesuatu dengan memperhatikan apa yang terjadi diluar rumah. Tahap sebelum baligh ditandai dengan tumbuhnya rasa ingin tahu dan menanyakan berbagai masalah yang terdapat dalam lingkungannya. Bakat itu tumbuh secara berurutan, satu demi satu dengan cepat pada umur 15 tahun bakat anak mulai menetap namun perubahan tetap berjalan akan tetapi perubahan tersebut sebagian besar berkenaan dengan aspek perlengkapannya bukan pada inti bakat.[19]
5.    Cara Mengenal Bakat
            Salah satu cara mengenal bakat adalah melihat perilaku dan kecenderungn dalam melakukan kegiatan. Kegiatan tersebut sangat menarik perhatian anak bahkan ia tetap saja melakukannya walau sudah diminta berhenti. Inilah bakat bawaan yang digerakkan dan dipengaruhi oleh hormin dan jaringan saraf. Cara lainnya dengan memperhatikan kegiatan yang dipilih untuk mengisi waktu luang karena kegiatan tersebut berkaitan dengan potensi dan bakat yang masih tersembuyi. Jika sudah senang, secara otomatis seseorang bisa tekun dan menikmati pekerjaannya sehingga profesionalitas akan datang dengan sendirinya dan semangat meningkatkan kemampuan yang bergelora. Ada beberapa cara mudah menemukan bakat :[20]
a.    Mengatasi reaksi spontan saat menyikapi kejadian.
b.    Mengukur besarnya niat dan keinginan dalam melakukan kegiatan.
c.    Kecepatan belajar dan penguasaan atas bidang tertentu.
d.   Mengamati perasaan anda saat melakukan sebuah kegiatan.
e.    Menikmati sebuah kegiatan.
f.     Keinginan mendalami sebuah kegiatan.
6.    Perbedaan Bakat
              Perbedaan bakat juga terjadi pada anak laki-laki dan perempuan karena perbedaannya signifikan dalam perkembangan intelektualitas dasar saperti, persepsi, daya ingat, belajar dan sebagainya. Perbedaan juga terjadi pada masa kecil anak perempun lebih menonjol daripada anak laki-laki. Disini posisi anak laki-laki berada jauh pada perkembangan anak perempuan tetapi seiring berjalannya waktu, semakin anak perempuan tumbuh menjadi dewasa semakin menurun perkembangan intelektualnya. Sebaliknya anak laki-laki mengalami perkembangan pesat. Perbedaan pada masa remaja, antara ank laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami perkembangan yang baik hanya saja dalam bidang sains dan matematika anak laki-laki jauh lebih unggul. Perkembangan otak mempengaruhi pemilihan bakat diamana anak perempuan berbakat akan memilih karir yang berbeda dengan anak perempuan tidak berbakat, namun anak laki-laki bebakat maupun tidak memiliki pilihan karir yang sama.[21]
7.    Tes Bakat
            Merupakan tes yang dirancaang untuk mngukur kemampuan potensial seseorang dalam satu jenis aktivitas khusus dan dlam rentan tertentu. Tes bakat meliputi tes kemampuan khusus, tes perbedaan individual, tes terpisah, dan tes kekuatan kemampuan. Pelaksanaan tes bakat sangat penting sebagai informasi awal untuk mengenal bakat anak. Kebiasaan dan kesenangan sehari-hari yang dijalani anak lebih menentukan karena sifatnya faktual, objektif, dan empiris.
8.    Hal-Hal yang Mempengaruhi Bakat
            Semua kegiatan positif sangaat besar pengaruhnya terhadap lahirnya bakat anak. Sehingga, pada usia dini anak lebih baik diajakmelakukan semua kegiatan semampunya sampai ia menemukan bidang yang menjadi minat dan bakatnya. Dalam website Universitas Bina Nusantara dijelaskan hal-hal yang mempengaruhi bakat, antara lain :[22]
a.    Pengaruh unsur genetik
b.    Struktur tubuh
c.    Latihan
9.    Cara mengembangkan Bakat
            Cara mengembangkan bakat narus didukung oleh lingkungannya. Namun, membentuk lingkungan adalah tugas keluarga, sekolah, dan masyarakat. Membentuk lingkungan membutuhkan kerja keras, waktu yang panjang,dan kreativitas. Tapi, bakat yang sudah diberikan Tuhan harus disyukuri dengan mengembangkannya secara maksimal agar mampu memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Jangan sampai membuat anak merasa rendah diri, takut, dan pesimis. Mengembangkan bakat dilakukan dengan:[23]
a.    Keberanian.
b.    Latihan.
c.    Dukungan lingkungan.
d.   Memahami hambatan dan mengatasinya.
10.    Menyalurkan Bakat
            Bakat harus disalurkan ditempat yang tepat, agar mereka bisa berkembang dan memiliki potensi unggul, selain itu bisa dengan memasukkan anak ke sanggar atau lembaga kursus, mengikuti ajang pencarian bakat jangan pernah memendam bakat karena bakat harus diasah dan dieksplor lalu jangan pernah takut atau minder menunjukkan bakat. Teruslah menggali bakat dengan memperbanyak latihan, bertanya, dan tidak malu menunjukkannya.[24]
B.  Pengembangan Bakat
            Anak berbakat bisa mendapatkan pelayanan pendidikan memadai apabila terdapat bentuk kerjasama dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. [25] Sebelumnya kurikulum 1994 menunjang pendiferensiasi kurikulum untuk siswa berbakat melalui pilihan metode dan cara pembelajaran yang dapat ditentukan sendiri oleh guru atau sekolah dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Muatan lokal telah memberi peluang untuk mengembangkan kemampan siswa yang dianggap perlu oleh daerah dan memanfaatkan ekstrakurikuler dan pembelajaran tambahan untuk pengayaan siswa berbakat.
            Siswa berbakat membutuhkan lingkungan belajar, konten pembelajaran, proses atau metode pembelajaran, dan proses belajar siswa. [26] Orang tua dan guru harus mmbantu anak menemukan bakatnya agar dapat mengetahi kekuatan dan kelemahan pada bakatnya.[27]
            Cara memperlakukan anak berbakat, orang tualah yang mempunyai peran penting untuk memberikan perhatian dan pertolongan bagi bakat anak. Orang tua harus menyiapkan aktivitas lebih untuk mendukung pengembangan bakat anak. Caranya dengan menanamkan rasa optimis, meningkatkan komunikasi, memberikan perhatian lebih, mengajak anak mengenal hal-hal baru. Hat-hati dengan respon dalam bakat anak bila salah jalan bisa jadi akan terjadi gangguan psikologis bagi anak. Sehingga menurut Andi Srisuriati Amal, orang tua harus mempertimbangkan beberapa hal, yakni:
a.       Utamakan pemberian motivasi bukan doronagn berlebihan yang membuat anak tertekan.
b.      Apresiasi yang berlebihan dapat membuat anak menjadi malas mengeksplor bakatnya dan cenderung angkuh.
c.       Harapan orang tua yang baik adalah manfaat dari potensi anaknya bukan profesi yang akan disandangnya.
            Disamping memberikan sikap dan pelayanan yang baik orang tua harus paham masalah pikologis yang mungkin terjadi dlam diri anak. Masalah psikologi dapat mengganggu keseharian anak yang berkenaan dengan aktivitasnya sendiri maupun aktivitas orang lain. Menurut James Lefanu, ada beberapa macam penyakit psikologis pada anak, yaitu :[28]
a.       Disleksia (gangguan belajar Membaca)
b.      Disgraphia (gangguan belajar menulis)
c.       Disortografia (gangguan belajar mengeja)
d.      Diskalkusia (gangguan belajar matematika)
e.       Attention Devisit Hyperactivity Disorder (gangguan aktivitas dan hiperaktif)
f.       Elektivemutism (sifat pemalu yang berlebihan)
g.      Autism (gangguan dalam mengakses informasi panca indera)
h.      Separation Anxiety (kecemasan berlebih)
i.        Phobia (ketakutan berlebih yang tidak beralasan)
            Ada beberapa kendala dalam pengembangan bakat, lebih dari itu mengenali dan mengembangkan bakat anak membutuhkan kecermatan dan kelihayan dalam mengelola dan menetapkan target anak. Sempitnya wawasan dari warga sekolah yang menganggap nial ujian nasional sebagai kepentingan utama dan takut melakukan perubahan, sehingga sekolah berjalan apa adanya tanpa sentuhan kreativitas, dinamitas, dan inovasi terus menerus. Ditambah tidak adanya keinginan meski dewasanya kompetisi dunia semakin ketat. Kesulitan merubah paradigma berpikir yang menghambat lahirnya ide dan orisinal dalam program penggalian dan pengembangan bakat.
            Hilangnya kekuatan visi dan misi sekolah dalam mengapresiasi bakat anak dan mengasahnya dengan program yang lebih baik. Kebanyakan pihak sekolah pasif, dan tidak kreatif mencari solusi sehingga bakat anak terbengkalai dan terkesan pasrah terhadap kekurangan dan keterbatasan. Kesulitan mencari pembimbing ahli untuk melahirkan keprofesionalan bakat dan melakukan kaderisasi secara sistematis dan fungsional. Tidak jarang tidak berjalannya prorm pengembangan bakat anak sebab personil terlalu matrealistis, tidak ada nilai perjuangan dan nilai pengabdian.
            Tetapi sebaik apapun program yang dibuat sekolah apabila rendahnya kesadaran,  dorongan dan dukungan dari orang tua anak rendah maka program akan sulit terlaksana dengan baik dan memuaskan. Masalah klasik dilembaga pendidikan adalah lemahnya sektor pendanaan yang menyulitkan pergerakan dalam pengembangan bakat anak.
            Tujuan dari pengembangan bakat adalah membekali anak didik dengan kemampuan besar dengan mengadapi persaingan hidup dimasa depan. Penggalian dan pengembangan bakat sebagai manivestasi nyata dari kepedulian sekolah dalam menyiapkan anak didik yang berkualitas dan berdaya saing harus diwujudan secara maksimal dan produktif sehingga, segala kendala yang merintangi bisa diatasi dan berjalan sesuai harapan semua elemen pendidikan.[29]

C.  Peran Keluarga
            Beberapa penelitian di Indonesia mengenai hubungan antara latar belakang keluarga, tingkat pendidikan orang tua, nila-nilai yang di pentingkan orang tua dan mendidik anak baik pada jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi lanjutan pada umumnya memperkuat teori dan hasil peneliatian di luar negeri mengenai faktor-faktor penelitian dalam memupuk dan meningkatkan bakat dan kinerja kreatif anak. Sikap orang tua yang memupuk kreatifitas anak sangat berbeda dari sikap orang tua yang tidak menunjang kreatifitas anak dan pentingnya peran orang tua sebagai pendukung program anak berbakat di sekolah.[30]
            Apabila kita jumpai anak merasa gagal pertama kali yang kita lakukan adalah menalarkan kejadian, dan hindari komentar negatif. Apabila kegagalan itu mengan dung tingkat emosi yang tinggi berikanlah empati bahwasannya kegagalan bukanlah kiamat, dan besok kita masih akan hidup terus seperti biasa. Hindarkan anak dari cara mengkambing hitamkan terhadap kegagalan karena sikap ini akan memasung upayanya untuk meningkatkan kompetensi.[31]
            Pembentukan bakat anak-anak sangat terpengaruh oleh bakat yang hidup dalam keluarga dan oleh posisi serta sikap orang tua terhadap bakat anak. Disamping itu, adannya seseorang yang mnyertai anak dalam bakatnya akan menambah motivasinya. Tidak mudah menentukan peranan yang dimainkan olehnketurunan dalam pembentukan bakat. Akan tetapi kita percaya bahwa faktor lingkungan sangat penting. Pertumbuhan kecemerlangan dalam keterampilan yang bermacam-macam dan perkembangan bakat , banyak tergantung pada lingkungan. Diantara faktor lingkunagn ada yang sangat kuat pengaruhnya dibanding faktor lain yaitu pengaruh adat, kebiasaan dan pandangan hidup yang berpengaruh, pola kebudayaan umum yang menjadi ciri kelompok atau masyarakat tempat anak hidup.[32]
            Sebagai orang tua hendaknya harus menghargai anak dan bakat yang ada dalam dirinya dengan perlakuan khusus diharapkan anak dapat mengembangkan bakatnya dengan sempurna karena lingkungan dimana dia tinggal mendukung sepenuhnya terhadap bakatnya. Tapi memang tidak seharusnya memberikan perlakuan khusus yang over. Kemungkinan terjadinya bakat negatif dikemudian hari sangatlah besar. Jangan sekal-kali hanya memberi perlakuan khusus kepada anak yang berbakat saja tetapi yang  kurang berbakat juga membutuhkan rangsangan untuk pengembangan bakatnya. Bakat anak hanya mampu berkembang dengan baik bila orag tua mampu menunjukkan diri sebagai lingkungan yang baik dan mendidik. Beberapa sikap yang seharusnya ditunjukkan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, dengan:
1.      Kebebasan
2.      Rasa hormat
3.      Kedekatan emosional
4.      Penanaman nilai
5.      Penekanan prestasi
6.      Minat
7.      Menghargai kreativitas
8.      Memiiki visi
            Menjadi orang tua yang bijaksana harus dapat membedakan antar memberi perhatian yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dan dapat membedakan antara memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan minatnya atau memberi tekanan untuk berprestasi semaksimal mungkin. Hendaknya orang tua harus dapat mengusahakan suatu lingkungan yang kaya akan rangsangan mental dan suasana dimana anak merasa tertarik dan tertantang untuk menunjukkan bakat-bakat dan krativitasnya. Berikut hal-hal yang harus dilakukan agar kondisi seperti itu dapat tercipta:[33]
1.      Orang tua harus menunjukkan minat terhadap hobi tertentu
2.      Orang tua harus menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan anaknya
3.      Orang tua mengusahakan alat-alat permainan yang mendidik dan merangsang kreativitas anak
4.      Orang tua menciptakan lingkungan dimana orang tua berperan serta dalam kecerdasan intelektual
5.      Orang tua menyediakan banyak kegiatan
6.      Oarang tua menjadikan rumah sebagai pusat kreativitas pada anak
            Terdapat enam peran yang diharapkaan dari orang tua dalam menggali dan mengembangkan bakat anak , diantaranya:
1.      Keteladanan, orang tua bisa dalam bentuk loyalitas dan totalitasnya dalam menjalani dan mnegembangkan profesi yang dijalani. Keteladanan orang tua menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak untuk menirunya sedikit demi sedikit.
2.      Membuat program dan pengawasan, yang betujuan untuk mengisi waktu anak dengan hal-hal positif. Pengawasan diperlukan untuk memastikan anak disiplin menjalankan program yang telah dimusyawarahkan dan disepaki bersama dan pemberian sanksi bila melanggar.
3.      Penghargaan, sangat penting bagi anak untuk memotivasinya dalam belajaar dan berkarya sesuai bakatnya. Penghargaan ini lebih mendidik dan bisa menmbah rasa percaya diri dan keyakinan anak namun, orang tua harus berhati-hati jangan sampai anak menjadi sombong. Disinilah pentingnya membekali kecerdasan secara lengkap tidak hanya bertumpu pada IQ, tapi juga EQ dan SQ.
4.      Menciptakan lingkungan yang kondusif, dengan kesadaran dan pendidikan lebih tinggi orang tua harus berani menjadi pioner kebangkitan. Jangan sampai hanya menyerahkan kepada proses alam karena maaksimalisasi usaha sangat menentukan keberhasilan program denga tetap berdoa kepada Tuhan agar diberi kemudahan dan kesuksesan.
5.      Membuat perpustaan rumah sebagai sumber pengetahuan yang efektif dalam mendorong anak mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
6.      Bertindak tegas jika diperlukan, keteladanan orang tua menjadi kunci karena anak akan mencontoh perilaku orang tua. Ketika orang tua disiplin menaati peraturan maka anak menjadi segan melaranggarnya, karena akan mendapat sanksi.
            Orang tua tidak boleh menggantungkan kesuksesan anak kepada lembaga pendidikan tanpa terlibat aktif dalam mengawal dan mengawasi perkembangan anak bila orang tua tidak sungguh-sungguh mangawal proses pendidikan anak, sangat besar kemungkinan anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang akan merusak karakter dan kualitasnya.[34]
D.  Peran Sekolah
            Banyak guru yang keberatan ditugaskan di sekolah yang bukan unggulan, padahal di sekolah biasa atau yang baru berkembang lebih memberikan kesempatan untuk maju dan meningkatan kompetensi guru terbuka luas.[35]
            Ketika si anak mulai kehidupan sekolah ia bergairah mencari pengalaman-pengalaman baru dan ia condong untuk belajar. Sebagai orang tua dan guru menggunakan bakat anak-anak yang wajar, untuk mengajar mereka, serta mengatur kehidupan mereka, agar amk-anak tidak kehilangan dorongan yang membawa mereka kepada mempelajari setiap hal baru dan mendorong mereka untuk memahami alam dimana mereka hidup. [36]
            Sekolah harus memberikan kesempatan dan suasana yang membawa rangsangan bakat yang baik untuk muridnya. Sekolah memberikan bermacam-macam pengalaman baru yang sesuai dengan anak laki-laki maupun perempuan. Dengan beerbagai kegiatan murid dapat mengungkapkan dirinya dan akhirnya terbentuknya bakat-bakat bar pada mereka. Semua kesempatan menjadikan murid memperoleh pengalaman yang langsung dilakukannya, maka cakrawala pengetahuan bertambah luas dan pengertiannya terhadap masalah kehidupan berbakat, sehingga dapat membantu pengembangan dan perluasan lingkup bakatnya.[37]
            Karakteristik guru anak bebakat dapat digolongkan menjadi karakteristik filosofis, profesional, dan pribadi. Guru dapat mengajarkan kreativitas melalui keterampilan berpikir daan bekerja kreatif serta motivasi intrinsik, teapi harus didukung suasan kelas yang menunjang. Anak akan kreatif jik guru mendorong otonomi anak.
            Kelas terbuka dengan stuktur yang tidak kaku dan memberikan perhatian individual, lebih memupuk pengembangan kreativitas anak dibandingkan ddengan kelas tradisional. Ruang kelas memberikan banyak rangsangan visual yang menarik dengan berbgai pusat kegiatan memungkinkan anak bereksperimen dan menjajahi berbagai bidang. Strategi mengajar yang meningkatkan kreativitas, memperhatikan :[38]
1.      Pemberian penilaian tidak hanya oleh guru tapi juga melibatkan siswa.
2.      Pemberian hadiah yng berkaitan dengan kegiatan yang sedang dilakukan (bila perlu).
3.      Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih topik atau kegiatan belajar sampai batas tertentu (setelah minimal persyaratan tercapai).
            Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai tanggung jawab besar dalam mensukseskan anak didik. Dalam kegiatannya, sekolah bukan hanya tempat berkumpul bagi guru dan murid, melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan. Tugas pokok dan fungsi sekolah adalah meneruskan, mempertahankan, dan mengembangkan kebudayaan masyarakat. Serta sekolah berperan membantu keluarga dan masyarakat melaksanakan fungsi pendidikan. Tugas utama sekolah menunjukkan perlunya membangun sistem persekolahan yang dapat memberikan kemampuan dasar bagi anak didik.
            Dalam konteks menggali dan mengembangkan bakat anak didik, peran yang diharapkan datang dari sekolah adalah sebagai berikut:[39]
1.      Menjadikan guru sebagai sosok yang profesional sebab peran guru sangat strategis dalm mentransfer pengetahuan, keahlian, menanamkan karakter dan kepribadian yang meniscayakan sumber daya manusia yang berkualitas.
2.      Membangun perpustakaan sekolah yang memadai, karena jantung pendidikan adalah perpustakaan. Fungsinya sangat vital sebagai sumber informasi dan pengethuan. Perpustakaan ini bisa berfungsi menggali bakat anak didik dengan melihat kategori buku yang dibaca oleh anak didik.
3.      Modernisasi manajemen yang akuntabel, dinamis, produktif, kompetitif, dan progresif adalah kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Efisiensi dan produktivitas merupakan 2 kata kunci untuk menilai modernisasi manajemen.
4.      Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif yang memiliki konrtol lingkungan, keamanan, kenyamanan, daya tarik, menumbuhkan tanggung jawab dan rasa memiliki, pengaturan akustik, penerangan, suhu udara dan ventilasi.
5.      Melakukan studi banding, tetapi jangan sampai biaya yang besar dalam studi banding tidak membuahkan hasil seperti harapan dan hasilnya harus di diskusikan secara serius.

E.  Peran Masyarakat
            Peran serta masyarakat dalam penyelnggaraan pelayanan pendidikan anak berbakat dapt terwujud melalui berbagai bentuk kerjasama. Anak berbakat dapat mengunjungi beberapa tempat kerja bisnis dan organisasi, serta memperoleh pelatihan disana. Pemimpin perusaan, tokoh-tokoh yang memiliki keahlian ataau keterampilan dalam bidang tertentu dapat memberi ceramah di sekolah anak berbakat.
            Bisnis atau perusahaan dapat membantu seleksi siswa yang akan mendapat beasiswa, atau yang akan bekerja di perusahaan selama beberapa waktu. Perusahaan dapat pula membiayai penelitian yang dilakukan siswa berbakat, mengenai berbagai masalah didalam masyarakat. Dengan demikian, melatih keterampilan penelitian dan mendekatkan siswa berbakat terhadap masalah nyata dalam kehidupan.
            Program luar sekolah dapat membantu memenuhi kebutuhan kognitif (mengembangkan keterampilan berpikir), afektif (berkomunikasi dengan teman sebaya atau orang dewasa yang kreatif), dan generatif (menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah) siswa berbakat.
            Makin tampaklah peran serta masyarakat untuk memupuk bakat dan talenta siswa berbakat dalam berbagai bidang dengan menyelenggarakan kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya. Namun, masih perlu lebih di galakkan ialah kerjasama 3 lingkungan pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat). Dalam pengadaan berbagai alternatif program pendidikan anak berbakat.[40]
            Masyarakat sebagai kumpulan dari individu-individu tidak boleh pasif dan apatis melihat pertumbuhan dan perkembangan remaja.masyarakat harus ikut terlibat dalam pengembangan potensi mereka secara aktif, sehingga lahir kader-kader pengembangan masyarakat yang mereka harapkan. Masyarakat sbagai tempat berinteraksi dan berkembangnya kader-kader bangsa menjadi wahana aktualisasi yang sangat kondusif bagi lahirnya bakat-bakat muda yang bisa diperhitungkan dunia jika dilatih secara maksimal.
            Masyarakat adalah kekuatan sosial yang bisa mengarahkan generasi mudanya kearah perilaku yang positif. Salah satunya adalah menjadikan lingkungan masyarakat sebagai arena yang kondusif bagi tersemainya kader-kader bekualitas. Hal ini bisa diwujudkan dengan kedisiplinan sosial dan personaal yang tinggi disertai iklim kompetisi yang ketat dan produktif. Untuk itu, banyak peran yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengembangkat bakat anak atau generasi mudanya. Diantaranya sebagai berikut :[41]
1.      Mendirikan organisasi pemuda sebagai forum bagi pemuda untuk berkumpul dan membuat kegiatan lalu mengembangkan bakatnya. Organisasi pemuda diharapkan mampu menjadi alternatif pengembangan bakat dengan program yang positif dan konstruktif.
2.      Mengadakan kompetisi secara bekala untuk melahirkan bakat besar karena kompetisi mampu menggalakkan semangat belajar dan berlatih. Kompetisi bisa melahirkn juara yang menjadi kebanggaan orang tua dan masyarakat. Kompetensi yang diselenggarakkan harus menyeimbangkan dimensi rohani dan jasmani.
3.      Mendirikan lembaga kursus sebagai wahana yang efektif bagi pengembangan bakat anak jika dilatih oleh tenaga ahli dibawah manajemen yang profesional, akuntbel, dan kredibel.
4.      Membuat gedung pelatihan serbaguna yang sederhana dan artistik bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi kader bangsa. Gedung rakyat yang berguna membangun skill dan profesionalitas serta menjadi wahana akselerasi karir yang membanggakan. Masyarakat harus membentuk tim sehingga operasionalisasi dan fungsionalisasi gedung berjalan dengan efektif dan produktif bagi semua lapisan masyarakat.
5.      Membangun media informasi publik untuk menambah informasi dan mengembangkan wawasan mereka. Pencerahan pemikiran lewat media informasi publik bisa mengunggah kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.
            Lima peran masyarakat tersebut menjadi entry point lahirnya lingkungan yang berkualitas, lingkungan yang mencintai pengetahuan, prestasi, dan kebersamaan dalam menggrakkan kebaikan dan mendorong kemajuan. Kekuatan sosial ini dapat memudahkan orang tua dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan bakat anak sampai level tertinggi. Mengharumkan nama baik bangsa di kancah Internasional.






BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Anak berbakat mempunyai kebutuhan dan masalaah khusus. Mereka dapat memberi sumbangan yang luar biasa kepada masyarakat bila mendapat pembinaan yang tepat untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara utuh dan optimal. Selama ini sosok berbakat muncul secara individu, bukan hasil dari suatu lembaga. Pada hakikatnya inti persoalan psikologi pendidikan terletak pada anak didik karena perlakuan tesebut harus selaras dengan keadaan anak didik.
Sangat penting bagi setiap orang tua untuk mendeteksi sejak dini potensi bakat dan minat masing-masing anak, agar orang tua bisa merangsang, mengarahkan dan memberikan fasilitas pendukung yang tepat sesuai bakat dan minat anaknya. Tetapi sinergitas yang baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakatlah yang mampu membentuk keprofesionalan potensi atau bakat setiap anak.











DAFTAR PUSTAKA


Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. Kiat mengembangkan Bakat Anak di Sekolah.          Jogjakarta: DIVA Press.
Dradjat, Zakiah. 1982. Mencari Bakat Anak-Anak. N. V. Jakarta: Bulan Bintang.
Faisal, Amir dan Zulfanah. 2008. Menyiapkan Anak Jadi Juara. Jakarta: Elex                              Media Komputindo.
Muhammad, As’adi. 2010. Deteksi Bakat dan Minat Anak Sejak Dini. Jogjakarta:                                                       Garailmu
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:         Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press




[1] As’Adi Muhammad, Deteksi Bakat dan Minat Anak Sejak Dini,(Jogjakarta: Garailmu 2010), h. 23
[2]Zakiah Daradjat, Mencari Bakat Anak-Anak,(Jakarta: N.V  Bulan Bintang 1982), h. 16
[3]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikank,(Jakarta: Rajawali Pers 2012), h. 166
[4] Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 27
[5] Op.Cit, h. 67
[6] Jamal Ma’mur Asmani, Kiat Mengembangkan Bakat Anak di Sekolah,(Jogjakarta: Diva Press 2012), h. 91
[7] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.219
[8] Op.Cit. h. 13
[9] Amir Faisal dan Zulfanah, Menyiapkan Anak Jadi Juara,(Jakarta: PT. Elex Media Komputindo 208), h. 166
                   
[10] As’Adi Muhammad., Op.Cit, h.198-199
[11] Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 15

[12] Utami Munandar, Pengembangan Kreatuvitas Anak Berbakat,(Jakarta: Rineka Cipta 2009), h. 285-286
[13] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.19
[14] Op,Cit. h. 21
[15] As’Adi Muhammad, Op.Cit, h.23
[16] Sumadi Suryabrata, Op.Cit.h.162
[17] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.22-24
[18] As’Adi Muhammad, Op.Cit, h.49-50
[19] Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 18-19
[20] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.24-29
[21] As’Adi Muhammad, Op.Cit, h.95-108
[22] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.35-36
[23] Op.Cit, h.42-45
[24] Op.Cit, h.45-48
[25] Utami Munandar, Op.Cit, h. 135
[26] Op.Cit, h. 157
[27] Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 28
[28] As’Adi Muhammad, Op.Cit, h.123-135
[29] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.131-145
[30] Utami Munandar, Op.Cit, h. 96-97
[31] Amir Faisal dan Zulfanah,Op.Cit, h. 16-17
[32] Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 23-24
[33] As’Adi Muhammad, Op.Cit, h.147-158
[34] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.75-84
[35] Amir Faisal dan Zulfanah,Op.Cit, h. 65
[36] Zakiah Daradjat, Op.Cit, h. 45
[37] Op.Cit, h. 69-70
[38] Utami Munandar, Op.Cit, h. 115-116
[39] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.93-110
[40] Utami Munandar, Op.Cit, h. 135
[41] Jamal Ma’mur Asmani, Op.Cit, h.85-92