Wikipedia

Search results

Saturday, June 20, 2015

MAKALAH KEWAJIBAN BERDAKWAH



KEWAJIBAN BERDAKWAH

Kelas D PGMI Semester 2 (dua)
Dosen Mata kuliah: Jimi Hariyanto, M.P.d.I


Disusun oleh :

Fera Martiani                        1411100196
Ganda Rusman Maulana     1411100197

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH
INSTITUT AGAMA  ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG 2015



KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kewajiban Dakwah”. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.















DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Dakwah........................................................................................3
B. Pengertian Dakwah...................................................................................4
C. Tujuan Dakwah.........................................................................................6
D. Kewajiban Dakwah..................................................................................8
E. Garis Besar Dakwah.................................................................................15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..............................................................................................16
B. Saran........................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan kita sebagai manusia adalah mahluk yang sempurna ciptaan Alha SWT, tapi belum sempuran manusia kalau belum hidup rukun berdampingan menghormati satu sama lain dan saling menasehat-nasehati dalam kebaikan itulah sebaik baiknya manusia.
Pengertian diatas bersifat ungkapan saling menasehat-nasehati dalam kebaikan seperti dalam Firman Allah “ hendaklah diantara kalian ada kelompok yang mengajak kepada khair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan cegah dari yang mungkar “ Q.S Ali Imron 3: 104.  Ungkapan ini sangat releven dengan kegiatan dakwah.
Aktivitas dakwah pada awalnya hanyalah merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima dari rasullullah SAW .Hal ini dapat dipahamai sebagaimana yang ditegaskan oleh hadits Rasullah SAW :“Balighu ‘anni walau ayat”.
 Inilah yang membuat kegiatan atau aktivitas dakwah boleh dan harus dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai rasa keterpanggilan untuk menyebarkan nilai-nilai islam.Oleh karena itu aktivitas dakwah memang harus berangkat dari kesadaran pribadi yang dilakukan oleh orang per orang dengan kemampuan minimal dari siapa saja yang dapat melakukan dakwah.
Memahami esensi dari makna dakwah itu sendiri, kegiatan dakwah sering dipahami sebagai upaya untuk memberikan solusi islam terhadap berbagai masalah dalam kehidupan.



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut
1.      Bagaimanakah sejarah perkembangan dakwah ?
2.      Apakah yang dimaksud dengan dakwah ?
3.      Apakah tujuan dari dakwah ?
4.      Bagaiman kewajiban umat muslim dalam berdakwah menurut  Al- Quran dan Al Hadsit ?
C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan penulis dalam makalha ini ialah sebagai berikut
1.      Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan dakwah
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan dakwah
3.      Untuk mengetahui bagaimana kewajiban umat muslim dalam berdakwah menurut Al Quran dan Al Hadist










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Dakwah
Sejarah dakwah dimulai sejak tanggal 17 Ramadhan, 12 tahun sebelum hijrah (6 Agustus 610 M)[1] pada waktu muhammad putra Abdullah diangkat menjadi Rasul dengan tugas “risalah”-nya yang pertama untuk membudayakan umat manusia dengan perintah wajib membasmi buta huruf dan mengembangkan ilmu pengetahuan.[2] Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah:
 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
“ bacalah dengan nama tuhan-mu yang mencipta, yang telah mencipta manusia dari segumpal darah beku, Bacalah dan Tuhan-mu Maha Pemurah, yang mangajar mempergunakan pena, yang mengajar manusia apa yang belum diketahui”[3] QS. Al-Alaq/96:1-5
berdakwah dimulai dengan bismilla (dengan nama Allah), hal ini memberikan petunjuk bahwasanya dakwah haruslah dilaksanakan karena Allah. Ini landasan pokok yang bertitik tolak dari konsepsi iman dan amal saleh yang berlandaskan ilmu pengetahuan, yang dalam waktu relatif singkat telah dapat melahirkan satu “umat pilihan” yang menjadikan Khalifah penguasa Bumi. [4]seperti dilukiskan al-Qur’an:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
“Kamu adalah umat terbaik ditampilkan untuk manusia, dengan tugas menyuruh makruf, melarang munkar dan percaya kepada Allah, Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan sebagian besar tetap fasik.”[5]QS. Ali-Imran/3: 110
Ayat 110 ini menegasakan martabat kaum muslimin sebagai umat paling terhormat, umat pilihan yang ditampilkan untuk memimpin dunia, untuk menjadi khalifahnya di atas bumi.[6]Supaya lebih jelas dengan keterangan ayat diatas, cobalah renungkan keterangan di bawah ini :
“Kamu adalah yang sebaik-baik ummat yang di keluarkan tuhan untuk seluruh manusia. Supaya ummat islam jangan tersesat dan kejangkitan penyakit bangga, sebagai yang telah menimpa kedua saudaranya, Yahudi dan Nasrani itu, sekali-kali jangan membaca sepotongan kalimat yang pertamannya saja.wajidlah di baca sampai keujungnya. Sebab firman allah itu terbagi empat bagian :
1.      Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan tuhan untuk seluruh umat
2.      Karena kamu menyuruh berbuat yang makruf.
3.      Dan kamu melarang berbuatan yang mungkar
4.      Serta kamu percaya kepada allah.
Ini adalah satu ayat yang tidak terpotong-potong dan tidak boleh dipotong-potong.[7]

B.     Pengertian Dakwah
Di tinjau dari segi etimologi dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti “panggilan, ajakan atau seruan”. Dalam ilmu tata bahasa Arab, kata Dakwah berbentuk sebagai “isim mashdar”. Kata ini berasal dari fi’il “da’a-yad’u”, artinya memanggil, mengajak atau menyeru. Orang yang memanggil, mengajak atau menyeru atau melaksanakan dakwah dinamakan da’inya, terdiri dari beberapa orang (banyak) di sebut “du’ah”.
Dakwah menurut arti istilahnya mengandung beberapa pengertian dakwah yang bersifat pembinaan dan bersifat pengembangan.
1.      Pembinaan artinya suatu kegiatan untuk mempertahankan dan menyempurnakan sesuatu hal yang telah ada sebelumnya. Pengertian dakwah yang bersifat pembinaan adalah suatu usaha mempertahankan, melestariakan dan menyempurnakan umat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah, denganmenjalankan syariatnya sehingga mereka menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia maupun akhirat.
2.      Pengembangan berarti suatu kegiatan yang mengarah kepada pembaharuan. pengertian dakwah yang bersifat pengembangan adalah usaha mengajak umat manusia yang belum beriman kepada Allah agar mentaati syariat islam supaya nantinya dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia maupun akherat.[8]
Kalau kita merenungkan benar-benar, kita mengetauhi bahwa dakwah adalah jalan bersambung, bukan Muhammad yang membukanya pertama kali, tetapi dia berjalan di belakang rasul yang mendahuluinya.
شَرَعَلَكُمْمِنَالدِّينِمَاوَصَّىبِهِنُوحًاوَالَّذِيأَوْحَيْنَاإِلَيْكَوَمَاوَصَّيْنَابِهِإِبْرَاهِيمَوَمُوسَىوَعِيسَىأَنْأَقِيمُواالدِّينَوَلاتَتَفَرَّقُوافِيهِكَبُرَعَلَىالْمُشْرِكِينَمَاتَدْعُوهُمْإِلَيْهِاللَّهُيَجْتَبِيإِلَيْهِمَنْيَشَاءُوَيَهْدِيإِلَيْهِمَنْيُنِيبُ (١٣)
“Mengenai dengan agama Allah, Allah telah mensyariatkan kepadamu syariat yang telah diwasiatkan kepada Nuh, syariat yang telah diturunkan kepada engkau, syariat yang diwasiatkan juga kepada Ibrahim,Musa,dan Isa, yaitu : tegakkan Agama, dan dalam agama jangan sekali-kali kamu berpecah belah. Bagi orang-orang musyrik sangan berat meneriama dakwahmu. Allah akan membimbing ke dalam Agama siapa yang dikehendakinya, dan akan menuntun ke arahnya siapa yang ingin kembali kepada Allah.” QS. Asy-syura/42: 13


C.  TUJUAN DAKWAH
قُلْهَذِهِسَبِيلِيأَدْعُوإِلَىاللَّهِعَلَىبَصِيرَةٍأَنَاوَمَنِاتَّبَعَنِيوَسُبْحَانَاللَّهِوَمَاأَنَامِنَالْمُشْرِكِينَ (١٠٨)
“ Katakan: Inilah jalanku; aku dan pengikutku dan sadar mendakwakan kamu menuju Allah. Maha Sucilah Allah, dan aku tidak termasuk dalam golongan orang-orang musyrik.” QS. Yusuf/12: 108
Tujuan dakwah menurut ayat ini, bahwa pendakwah sebelum mendakwahkan orang lain, pendiriannya sendiri harus jelas dan tugas tentang hal yang didakwahkannya itu. Dalam hal ini, Nabi Muhammad telah menegaskan tempat tegaknya, yaitu diatas jalan Allah, bukan di atas jalan musyrik, dan tujuan dakwah pun jelas, yaitu mengajak manusia berjalan diatas jalan Allah, mengambil ajaran Allah menjadi Jalan hidupnya.
Sesungguhnya Allah telah mengutus para rasul sebagai pembawa berita pahala dan pembawa berita siksa, dengan tugas memperkenalkan Allah kepada seluruh manusia dan membimbing mereka kejalan lurus.Jalan lurus, yaitu jalan kebaikan sesuai yang disyari’atkan Allah SWT.
Tetapi tabiatnya manusia, manusia sering menuju ke arah kesalahan dan sering-sering pula hawa nafsu mengalahkan mereka. Karena itu, untuk mendorong mereka kepada kebenaran dan menetapkan mereka  atas kebenaran itu, memerlukan kesungguhan. Dan karena itu, datanglahperintah berdakwah . yang dijelaskan dalam firman Allah :
فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لأعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لا حُجَّةَ بَيْنَنَاوَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (١٥)
“ Maka karena itu, berdakwalah engkau dengan sikap lurus sebagaimana diperintahkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka, dan katakan: “ Aku beriman dengan kitab yang diturunkan Allah...” QS. Asy-Syura/42: 15
وَإِنْجَادَلُوكَفَقُلِاللَّهُأَعْلَمُبِمَاتَعْمَلُونَ (٦٨)
“ Dan berdakwalah kepada jalan Tuhan-mu, sesungguhnya engkau berada di atas jalan lurus.” QS. Al-Hajj/22: 67
وَلايَصُدُّنَّكَعَنْآيَاتِاللَّهِبَعْدَإِذْأُنْزِلَتْإِلَيْكَوَادْعُإِلَىرَبِّكَوَلاتَكُونَنَّمِنَالْمُشْرِكِينَ (٨٧)وَلاتَدْعُمَعَاللَّهِإِلَهًاآخَرَلاإِلَهَإِلاهُوَكُلُّشَيْءٍهَالِكٌإِلاوَجْهَهُلَهُالْحُكْمُوَإِلَيْهِتُرْجَعُونَ (٨٨)
“ Dan jangan sampai mereka dapat menyelewengkan engkau dari ayat- ayat Allah setelah ia turunkepada engkau, dan berdakwalah kepada Tuhan-mu, dan jang sampai engkau termasuk dalam golongan orang-orang musyrik. Janganlah mendakwah di samping Allah tuhan lain: tidak ada tuhan selain dari pada Dia, segala sesuatu binasa kecuali wajahnyya, segala hukum milik-Nya pula kamu akan dikembalikan.” QS. Al-Qashosh/28: 87-88
            Dan dakwah jelas terbuka untuk umum dan untuk khusus, ia memperlihatkan garis-garis yang paling halus atau mendasar. Dalam memanggil manusia kepadanya, dasar dakwah ialah penglihatan, logika dan kebenaran; tiangnya ialah dalil yang bukan paksaan dan tidak berlapiskan syubhat[9]:
لِكُلِّأُمَّةٍجَعَلْنَامَنْسَكًاهُمْنَاسِكُوهُفَلايُنَازِعُنَّكَفِيالأمْرِوَادْعُإِلَىرَبِّكَإِنَّكَلَعَلَىهُدًىمُسْتَقِيمٍ (٦٧)
“ untuk tiap-tiap umat telah kami tetapkan ibadat tertentu, yang terus mereka lakukannya. Karena itu, mereka tidak boleh menentang engkau dalam urusan ini. Dan berdakwahlah kepada Tuhan-mu, sesungguhnya engkau berada di atas jalan lurus. QS. Al-Hajj/22: 67
Ayat ini memesankan, bahwa dalam berdakwah tidak boleh menghiraukan tantangan para penentang, karena orang yang telah mendapatkan taufik kejalan lurus, tidak pantas meladeni tentangan orang-orang yang telah keharaman petunjuk.
Demikianlah perintah dakwah datangnya berulang-ulang dalam berbagai ayat.
Maka dari kita mengerti, bahwa dakwah yang mencukupi yaitu dakwah yang dibangun atas landasan ajaran dan alasan baik, dan para pendakwah adalah mereka yang paling benar perkataan dan paling mulia kelakuannya.
Dengan ini, jelas bahwa pengertian dakwah dan kemana tujuannya. Dakwah yaitu mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syariat Islam yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalkan oleh pendakwah sendiri. Tujuan dakwah, yaitu membentangkan jalan Allah diatas bumi agar dilalui umat manusia.
D.    Kewajiban Berdakwah menurut Al-Quran dan Al-Hadist
Berdakwah dengan segala bentuknya adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Misalnya amar ma’ruf, nahi munkar, berjihad, memberi nasihat dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa hukum islam tidak mewajibkan bagi umatnya untuk selalu mendapatkan hasil semaksimalnya, akan tetapi usahanyalah yang diwajibkan semaksimalnya sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Adapun orang yang diajak, ikut ataupun tidak ikut itu urusan Allah.
Pada dasarnya setiap muslim dan muslimah di wajibkan untuk mendakwahkan islam kepada orang lain baik muslim maupun non muslim ketentuan semacam ini di dasarkan pada firman Allah Swt :
`ä3tFø9uröNä3YÏiB×p¨Bé&tbqããôtƒn<Î)ÎŽösƒø:$#tbrããBù'tƒurÅ$rã÷èpRùQ$$Î/tböqyg÷ZtƒurÇ`tã̍s3YßJø9$#4y7Í´¯»s9'ré&urãNèdšcqßsÎ=øÿßJø9$#ÇÊÉÍÈ
Artinya : “dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan menyuruh kepada yang Ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran : 104)
Arti Mufradat :
Dan hendaklah ada :وَلۡتَكُن                                                     Diantara kamu : مِّنكُمۡ
Ummat :أُمَّةٞ                                         Menyeru, Berdoa kepada kami : يَدۡعُونَ
Kepada :إِلَ                                                                       Kebaikan : ٱلۡخَيۡرِ
Dan menyuruh :وَيَأۡمُرُونَ                    Dengan/kepada kebaikan :    بِٱلۡمَعۡرُوفِ
Dan melarang :وَيَنۡهَوۡنَ                           Dari perbuatan munkar :     عَنِ ٱلۡمُنكَر
Dan mereka itulah :وَأُوْلَٰٓئِكَ      Merekalah orang-orang beruntung : هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
Asbabun Nuzul Al-Imran ayat 104 :
            Pada zaman jahiliyah sebelum Islam ada dua suku yaitu, Suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan turun temurun selama 120 tahun, permusuhan kedua suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam kepada mereka, pada akhirnya suku Aus yakni kaum Anshar dan suku Khazraj hidup berdampingan secara damai dan penuh keakraban. Suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat suku Aus dengan suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perag Bu’ast yang pernah terjadi antara Aus dan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling mencaci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka : Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah ?. setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukan. Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk sekaligus sebaik-baik peristiwa. Maka turunlah surat Ali Imran ayat 104.
Adh Dhahhak mengatakann, mereka adalah para sahabat yang terpilih, para mujahidin yang terpilih, dan para ulama.
Abu Ja’far Al-Baqir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membacakan firmanNya : “Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan” (Ali Imran : 104), kemudian beliau bersabda : “yang dimaksud dengan kebajikan ini ialah mengikuti Al-qur’an dan sunnahku” hadist diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.
Makna yang dimaksud dari ayat ini ialah hendaklah ada segolongan orang dari kalangan umat ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut, sekalipun urusan tersebut memang diwajibkan pula atas setiap individu dari umat ini. Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :
 “Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika masih tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Al Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Abu Amr, dari Jarullah Hudzhaifah ibnu Yaman, bahwa Nabi SAW pernah bersabda :
“Demi Tuhan yang jiwaku berada didalam genggaman kekuasaanNya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau hampir-hampir Allah akan mengirimkan kepada kalian siksa dari sisiNya, kemudian kalian benar-benar berdoa (meminta pertolongan kepadaNya), tetapi doa kalian tidak diperkenankan.”
Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadist Amr Ibnu Abu Amr dengan lafadz yang sama. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini hasan.
Hadist tentang dakwah :
نْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Artinya : “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”. (HR. Bukhari)
Arti Mufradat :
Sampaikanlah :قَالَ بَلِّغُوا
Dariku :عَنِّي
Walaupun : وَلَوْ 
Ayat :آيَةً
Dalam hadist diatas, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah SWT telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi umat manusia dan jin. Tentang sabda beliau, “sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’fi An Nahrawani mengatakan, “hal ini agar setiap orang mendengar suatu perkara dari Nabi SAW bersegera untuk menyampaikannya, meskipun sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi SAW dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau, “hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadist ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.
Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasululllah SAW terbagi dua bentuk :
  1. Menyampaikan dalil Al-qur’an dan As Sunnah. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas islamnya, baligh dan memiliki sikap.
  2. Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya. Maka kewajiban pertama umat Islam itu ialah menggiatkan dakwah agar agama dapat berkembang baik dan sempurna sehingga banyak pemeluk-pemeluknya.
 Dengan dorongan agama akan tercapailah bermacam-macam kebaikan sehingga terwujud persatuan yang kokoh kuat. Dari persatuan yang kokoh tersebut akan timbullah kemampuan yang besar untuk mencapai kemenangan dalam setiap perjuangan. Mereka yang memenuhi syarat-syarat perjuangan itulah orang-orang yang sukses dan beruntung.Selain ayat diatas ada juga dalil lain yang menjelaskan tentang kewajiban dakwah diantara sebagai berikut:
äí÷Š$#4n<Î)È@Î6yy7În/uÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ÏpsàÏãöqyJø9$#urÏpuZ|¡ptø:$#(Oßgø9Ï»y_urÓÉL©9$$Î/}Ïdß`|¡ômr&4¨bÎ)y7­/uuqèdÞOn=ôãr&`yJÎ/¨@|Ê`tã¾Ï&Î#Î6y(uqèdurÞOn=ôãr&tûïÏtGôgßJø9$$Î/ÇÊËÎÈ
Qs. An-Nahl:125
” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ”.
Hikmah
ô`tBurß`|¡ômr&Zwöqs%`£JÏiB!%tæyŠn<Î)«!$#Ÿ@ÏJtãur$[sÎ=»|¹tA$s%urÓÍ_¯RÎ)z`ÏBtûüÏJÎ=ó¡ßJø9$#ÇÌÌÈ
Qs. Fushishilat:33
” Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
HR. Bukhari
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
HR. Mulim
“Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.”
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ
HR. Imam Ahmad
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengadzab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” 
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًامِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ
HR.Turmudzyi, Abu ‘Isa berkata, hadist ini Hasan
“Demi Dzat Yang jiwaku ada di dalam genggaman tanganNya, sungguh kalian melakukan amar makruf nahi ‘anil mungkar, atau Allah pasti akan menimpakan siksa; kemudian kalian berdoa memohon kepada Allah, dan doa itu tidak dikabulkan untuk kalian”.
Riwayat-riwayat di atas merupakan dalil yang shahih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Mukmin dan Muslim. Bahkan, Allah swt mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah Islam, atau berdiam diri terhadap kemaksiyatan dengan “tidak terkabulnya doa”.
Bahkan, jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat maksiyat maupun tidak. Kenyataan ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hukum dakwah adalah wajib, bukan sunnah. Sebab, tuntutan untuk mengerjakan yang terkandung di dalam nash-nash[10] yang berbicara tentang dakwah datang dalam bentuk pasti. Indikasi yang menunjukkan bahwa tuntutan dakwah bersifat pasti adalah, adanya siksa bagi siapa saja yang meninggalkan dakwah. Ini menunjukkan, bahwa hukum dakwah adalah wajib.
E.     GARIS-GARIS PELAKSANAAN DAKWAH
Atau bisa dikatakan garis besar  dakwah sebagai jalan untuk mewujudkan sebuah masyarakat ideal termuat dalam.
Firman Allah :
öNçGZä.uŽöyz>p¨Bé&ôMy_̍÷zé&Ĩ$¨Y=Ï9tbrâßDù's?Å$rã÷èyJø9$$Î/šcöqyg÷Ys?urÇ`tã̍x6ZßJø9$#tbqãZÏB÷sè?ur«!$$Î/3öqs9uršÆtB#uäã@÷dr&É=»tGÅ6ø9$#tb%s3s9#ZŽöyzNßg©94ãNßg÷ZÏiBšcqãYÏB÷sßJø9$#ãNèdçŽsYò2r&urtbqà)Å¡»xÿø9$#ÇÊÊÉÈ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(QS. Al Imran 110)
Di sisi lain, hidup Rasul sendiri secara praktis dibaktikan untuk mengajak orang untuk  masuk islam (beriman, mengenai kenabian Muhammad), atau minimal mereka bersikap islam (ber-islam, hidup secara damai).[11] Seperti Nabi Muhammad.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dakwah dimulai sejak tanggal 17 Ramadhan, 12 tahun seblum hijrah (6 Agustus 610 M) pada waktu muhammad putra Abdullah diangkat menjadi Rasul dengan tugas “risalah”-nya yang pertama untuk membudayakan umat manusia dengan perintah wajib membasmi buta huruf dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Seperti yang dijelaskan dalam Quran surat Al Alaq 96:15.
secara etimologi dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti “panggilan, ajakan atau seruan”. Dalam ilmu tata bahasa Arab, kata Dakwah berbentuk sebagai “isim mashdar”. Kata ini berasal dari fi’il “da’a-yad’u”, artinya memanggil, mengajak atau menyeru. Orang yang memanggil, mengajak atau menyeru atau melaksanakan dakwah dinamakan da’inya, terdiri dari beberapa orang (banyak) di sebut “du’ah”.Sedangkan menurut istilah dakwah mengandung beberapa pengertian yaitu bersifat pembinaan dan pengembangan.
Dakwah memiliki beberapa tujuan dianataranya dakwah bertujuan untuk mengajak manusia-manusia berjalan diatas jalan AllahSWT dan mengambil jalan Allah menjadi jalan hidupnya. Menurut QS Al Imran :104 setiap muslim dan uslimah diwajibkan untuk mendakwahkan atau menyebarkan islam kepada orang-orang lain baik itu orang- orang muslim maupun non muslim.
B.     Saran
Dalam makalah ini penulis memberi saran untuk semua umat muslim, mari kita memanggil, mengajak dan menyeru saudara-saudara kita agat tetap berjalan diatas jalan Allah dan megambil jalan Allah menjadi jalan hidupnya.


Daftar Pustaka

[1]Said Quthub.,Jilid I,juz I,hal.14-21
[1]A.Hsjmy Dustur Dakwah Menurut Al-quran, ibid hal. 4
[1]Al-Qur’an dan Terjemahan Surat Al-Alaq/96:1-5
Al-Qur’an dan Terjemahan Surat Ali-Imran/3: 110
[1] ibid Hal 11
[1] Tafsir Al-Azhar,Prof. Dr. Hamka Juzu’4-5-6 hal.64
Asmuni syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Al-iklas, Surabaya, hal. 198


[1]Said Quthub.,Jilid I,juz I,hal.14-21
[2]A.Hsjmy Dustur Dakwah Menurut Al-quran, ibid hal. 4
[3]Al-Qur’an dan Terjemahan Surat Al-Alaq/96:1-5
[4] Ibid hal. 5
[5]Al-Qur’an dan Terjemahan Surat Ali-Imran/3: 110
[6]ibid Hal 11
[7]Tafsir Al-Azhar,Prof. Dr. Hamka Juzu’4-5-6 hal.64
[8]Asmuni syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Al-iklas, Surabaya, hal. 198
[9]Syubhat adalah hal yang samar-samar dalam kehalalan dan keharaman dari sesuatu
[10]nash-nash adalah lafas yang lebih jelas terhadap sesuatunya.
[11]Sejarah mencatat, pasca-perjanjian Hudaibiah Rasulullah mulai berkonsentrasi mangajak para pembesar dan pemimpin untuk menerima Islam. Keputusan mereka untuk menolak dihargai, terutama yang bersikap ramah seperti Muqauqis dari mesir. Untuk bisa hidup damai dan berdampingan dengan nonmuslim, Rasulullah juga menyusun undang-undang yang mengatur tata cara pergaulan secara damai dan berdampingan dengan mereka. Baca Muhammad Ibrahim al-Juyusyi, Tarikh Al-dakwah, (kairo: Dar al-‘ilm wa al-Tsaqafah,1999),cet. Perama, h. 136-137,

2 comments:

  1. Assalamualaikum kak, izin copas sedikit ya kak dibagian kewajiban berdakwah, lagi gak mood ngetik soalnya wkwk terimakasih kak

    ReplyDelete